Beliau adalah dosen di tempat aku telah menyelesaikan kuliah, yaitu di Jurusan Teknik Sipil Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.
Bersama temanku Rachmad Jayadi ( sekarang dosen UGM ) kami berdua pernah jadi asisten beliau untuk mata kuliah Teknik Drainasi di JTS-UGM.
Banyak pengetahuan dan nasehat dari beliau yang telah kami peroleh , selain ilmu teknik sipil kami juga mendapatkan pengetahuan ilmu teknik tradisional yang digali dari warisan budaya para leluhur kita.
Menjelang hari ulang tahun beliau yang ke 85 ini ( 9 Mei 2008 ) saya suntingkan artikel tentang beliau yang pernah ditulis oleh saudara MF ARIEF yang juga pernah jadi mahasiswa beliau.
Artikel ini saya peroleh dari milis alumni Teknik Sipil UGM kemarin.
MEMBAGI ILMU HINGGA SENJA
Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
Di usia 84 tahun masih mengajar program S-2 dan melakukan penelitian
tentang teknik sipil hidro tradisional. Pensiun dini di usia 56 tahun
agar bisa melanglang ke sejumlah daerah untuk memecahkan masalah
pengairan. Menciptakan Tripikon, Pinastik A, Nyi Bunga Sihir, dan
Nalareksa Bak Jantung. Tak haus tropi dan penghargaan. Resep bugarnya,
mengangkut air di tengah malam.
BEBERAPA mahasiswa nampak duduk santai di halaman depan gedung
Laboratorium Teknik Tradisional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Mahasiswa S-2 Program Teknik Sipil Hidro itu tengah menunggu kuliah
yang diberikan Profesor Ir Hardjoso Prodjopangarso.
Tepat pukul 09.00, sesuai jadual, nampak Pak Dosen dengan perawakan
kecil dan terlihat sangat uzur itu berjalan mendekati kerumunan
mahasiswa itu. Profesor Hardjoso menyapa mereka dengan ramah. Ia
berjalan pelan menuju ruang terbuka di sebelah gedung. Para mahasiswa
mengikutinya. Selama 45 menit dosen sangat senior itu memberikan
penjelasan mengenai teknologi tradisional pengairan pasang surut.
Hardjoso Prodjopangarso sebenarnya sudah pensiun sebagai guru besar
UGM. Ia menggapai guru besar pada 1967. Hardjoso mengajukan pensiun
dini pada usia 56 tahun. Bukan karena ia tak mau lagi mengajar. Namun
justru ia ingin bisa berbuat banyak dengan ilmunya. Bukan saja buat
alamamaternya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, juga untuk
masyarakat luas.
Prinsip untuk selalu memberikan ilmu bermanfaat bagi masyarakat banyak
itu teguh dipegangnya. Di usia yang memasuki 84 tahun, pada 9 Mei lalu
itu, Hardjoso masih aktif mengajar. Juga melakukan sejumlah
penelitian. Ia bahkan menyetir sendiri mobilnya ke manapun dia pergi.
Memang, tak segesit masa mudanya.
MAHASISWA NOMOR URUT SATU
Masa kecil Hardjoso dihabiskan di Surakarta. Pendidikan dasar
dituntaskan di di RK Hollandsch Inlandsche School (HIS) Purbayan
Surakarta pada 1937. Di masa remajanya, Hardjoso pindah ke Jakarta. Ia
menamatkan studinya di RK Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan
Sekolah Menengah Teknologi, dua-duanya di Jakarta.
Tahun 1946, di masa perang kemerdekaan, Hardjoso tercatat sebagai
mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik (STT) di Yogyakarta. STT adalah cikal
bakal Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hardjoso
bangga ia menjadi mahasiswa pertama yang mendaftar di STT. ”Kalau Anda
lihat daftar alumni Fakultas Teknik UGM saya merupakan mahasiswa
teknik dengan Nomor Induk Mahasiswa 1,” kata Hardjoso mengenang.
Di awal kuliahnya itu, Hardjoso ikut berperang ketika penjajah Belanda
berusaha mengusai kembali Indonesia, yang dikenal sebagai perang
kemerdekaan (1947-1949). Ia masuk Korps Mahasiswa Kompi M, Brigade
Tujuh Belas.
Insinyur Teknik Sipil direngkuhnya pada 1953. Pilihannya pada teknik
sipil dengan alasan, “Saya senang masyarakat sipil. Tugas pokoknya
membuat bangunan-bangunan, jaringan air minum, fasilitas-fasilitas
umum yang semuanya berfungsi untuk melayani masyarakat.”
Toh, ia tak langsung mengajar setelah lulus. Ia bekerja di Departemen
Kesehatan selama lima tahun. Baru sejak 1958 ia menjalani profesi
sebagai dosen di UGM Yogyakarta.
DARI TRIPIKON S HINGGA NYI BUNGA SIHIR
Ilmunya benar-benar dikembangkan untuk kepentingan masyarakat.
Hardjoso memang getol melakukan survei di sejumlah daerah di Tanah
Air. ”Separo hidup saya dihabiskan untuk survei keluar masuk belantara
dan menjelajahi rawa. Sampai saat ini ada yang menganggap saya ahli
bidang penanganan rawa,” kata Hardjoso.
Hobinya keluar masuk pedalaman itu kini dikenang masyarakat daerah
karena teknologi ciptaannya. Ia meninggalkan sejumlah karya bidang
pemeliharaan teknologi dan ekologi. Misalnya, pengairan pasang-surut
di Kalimantan dan Sumatera. Kalangan teknik sipil mafhum betul siapa
pencipta teknologi Tripikon-S.
Tripikon-S adalah teknologi penanganan limbah untuk daerah dengan
kondisi air tanah tinggi, daerah berair dan rawa-rawa. Kisah proses
kreatif terciptanya Tripikon-S ini cukup unik. Bermula dari
keikutsertaan sang profesor menangani proyek pasang-surut Departeman
Pekerjaan Umum di Kalimantan. Ia sempat berdialog dengan Walikota
Pontianak.
“Pada waktu itu walikota bilang perguruan tinggi itu bisanya cuma
ngritik saja mbok saya diberitahu bagaimana caranya melayani
masyarakat?” kata Hardjoso menirukan ucapan Pak Walikota.
”Saya merasa disinggung sebab saya berasal dari perguruan tinggi. Saya
jawab, ’Pak, satu bulan lagi saya kembali. Nanti penyelesaiannya saya
akan berikan langsung kepada Bapak. Muncullah ide menciptakan
Tripikon-S ini dan bisa diterapkan,” kata Hardjoso.
Selain Tripikon-S sebenarnya masih ada temuan teknologi tepat guna
buat masyarakat pedesaan. Di antaranya Pinastik A, Nyi Bunga Sihir,
dan Nalareksa Bak Jantung. Semua teknologi ciptaannya itu berkaitan
dengan instalasi bangunan air. Meski banyak temuannya, tak pernah
muncul keinginan Hardjoso mempatenkan karyanya. Ia tak haus puja-puji.
Apalagi sekadar penghargaan. Ia bahkan menolak pemberian Anugerah
Hamengku Buwono IX pada 2006 lalu.
LITERATUR DALAM NEGERI
Kini, di usia sepuh, waktunya di luar rumah ia habiskan di
Laboratorium Teknologi Tradisional di Yogyakarta, tak jauh dari kampus
UGM di Bulaksumur. Ia memang tak lagi getol ke luar kota melakukan
survei keluar masuk pedalaman.
Toh, namanya tetap tak hilang dari pembicaraan. Pada pertemuan di UGM
Yogyakarta, dalam rangka gerakan ketahanan pangan Hardjoso diundang
sebagai pembicara kunci. Hadir di situ menteri pekerjaan umum, menteri
negara tenaga kerja dan transmigrasi dan menteri pertanian. Juga
gubernur Papua, Kalimantan Tengah dan Yogyakarta.
“Saya diminta memberi saran-saran dan masukan. Saran saya sudah
lampau. Ketika masih aktif antara tahun 1968 hingga 1986 saat membuka
rawa-rawa. Meskipun saat ini di laboratorium masih aktif melaksanakan
penelitian-peneliti an. Di laboratorium segala sesuatu saya
sederhanakan, ya ilmu, ya teknologi, supaya bisa sampai ke rakyat
paling bawah,” kata Hardjoso merendah.
Masih menggeliat dalam benaknya, betapa pemerintah masih belum
mengelola kekayaan alam di Tanah Air. Menurutnya, di luar Pulau Jawa
masih banyak kekayaan belum tersentuh, seperti rawa dan gambut tebal.
Semua itu belum dimanfaatkan optimal. Penelitian yang menyentuh area
rawa dan gambut itu belum banyak dilakukan.
“Kekayaan Indonesia luar biasa tapi harus tahu cara menangani.
Disamping keterampilan, cinta Tanah Air juga dibutuhkan,” ujarnya.
Sayangnya, perguruan tinggi tak mengajarkan lagi bagaimana mengelola
lahan belum produktif semacam rawa dan gambut. ”Saya setuju sekali
ketahanan pangan bisa dihasilkan di rawa. Saya ceritakan bagaimana
ketika membangun perairan pasang surut mulai 1968 hingga 1986,” kata
Hardjoso.
Hardjoso hanya bisa berharap, perguruan tinggi tak hanya memberikan
saran mahasiswanya memperlajari literatur asing. Padahal banyak
literatur dari dalam negeri yang lebih berbasis pada kondisi di Tanah
Air.
Itulah kenapa di usia senjanya, Profesor Hardjoso tetap senang
berlama-lama di laboratorium teknologi tradisional. Bangunan
laboratorium kini menjadi lebih megah. Ruang kerja Hardjoso juga
lapang dan berpendingin udara. “Sebenarnya saya tidak suka ruangan ber
AC namun untuk menghormati pemberian dari Departemen Pekerjaan Umum,
ya akhirnya saya tempati juga,” katanya.
GUGUR DALAM PENELITIAN
Tentu hal itu berlainan dengan mahasiswanya yang lebih suka kuliah di
ruang berpendingin udara. Padahal, semasa ia kuliah tantangannya ikut
mempertahankan kemerdekaan. Banyak mahasiswa gugur di medan
pertempuran. Memang, semasa menjadi dosen dan peneliti, ada
mahasiswanya yang sampai gugur sewaktu melakukan penelitian. “Asisten
saya ada yang tenggelam, belum lagi yang dipatuk ular,” ujarnya
mengenang.
Herannya, mahasiswa sekarang justru bertempur sendiri, antarfakultas.
Hardjoso berharap rasa cinta Tanah Air kembali dipupuk. ”Dulu, ketika
didendangkan Indonesia Raya, kami bisa mbrebes mili (berurai air
mata),” kata Hardjoso mengenang.
Ia menularkan rasa cinta Tanah Air itu saat memberikan pembekalan
program KKN mahasiswa UGM Yogyakarta. Di Laboratorium Teknologi
Tradisional, memang ada beragam teknologi tradisional yang tepat guna
di pedesaan. Ada pengairan subak, rumah honai, dan model tripikon
karya Hardjoso. “Kalau ada rasa cinta Tanah Air, generasi muda mampu
mengurangi gesekan-gesekan antar mereka.
RESEP BUGAR SANG PROFESOR
USIA 84 tahun tentunya rentang umur yang panjang. Tak semua orang bisa
mencicipinya. Terlebih di usia itu masih punya daya ingat yang brilian
seperti Profesor Hardjoso. Apa resepnya tetap bugar dan punya daya
ingat? “Saya tidak pernah minum obat-obatan seperti obat kuat dan
sebagainya,” katanya.
Resep penting lainnya: selalu menyukai dan tidak pernah membandingkan
dengan orang-orang yang punya kedudukan di atas. ”Saya selalu apa
adanya. Apa-apa yang Tuhan beri selalu saya syukuri,” katanya.
Hardjoso bahkan tak punya ambisi muluk-muluk. Kalaulah disebut ambisi,
kaya Hardjoso, ia ingin ilmu dan teknologi bisa sampai ke rakyat
paling bawah. ”Melalui Kuliah Kerja Nyata, saya sampaikan ke desa-desa
bagaimana membuat alat bermanfaat.”
Ia menyebut obsesinya itu ambisi lunak. ”Mungkin hal ini yang membuat
saya masih aktif hingga saat ini. Saya juga masih nyetir mobil
sendiri,” ujarnya.
Satu kegiatan unik ia lakukan untuk menjaga stamina. “Olahraga saya
antara lain di tengah-tengah tidur malam saya bangun dan jalan-jalan
mengisi bak air mandi. Kualitas air minum dari ledeng kurang bagus
makanya harus diisi dengan air dari sumur dengan pompa,” tuturnya.
Olahraga malam ala sang profesor itu rupanya berdampak pada kualitas
tidurnya yang disebut jadi lebih baik. “Tidur malam saya jadi lebih
nyenyak.”
Resep penting agar bisa tetap berkarya di usia senja menurutnya adalah
cinta Tanah Air, dan selalu punya misi membantu masyarakat. ”Ada satu
lagi: dukungan istri dan keluarga.”
MF. ARIEF
Ditulis dalam Uncategorized | Tag: Add new tag, Artikel, Budaya, Ilmu, Leluhur, Profesor, Teknik, Tradisional